Pertanyaan dan Jawaban Buat Yang Mau Cari Kerja

Pertanyaan dan Jawaban Buat Yang Mau Cari Kerja

 Pertanyaan dan Jawaban Buat Yang Mau Cari Kerja

  1. Kapan saat yang tepat bagi kita untuk melamar kerja ? Saat kita merasa bahwa telah tiba waktunya bagi kita untuk mulai bekerja. Untuk setiap orang tidak ada persamaan waktu yang tepat. Ada yang setelah lusus SLTA, ada yang kuliah sambil bekerja atau setelah lulus kuliah baru bekerja. Ada juga yang tidak bisa meneruskan sekolahnya sehingga harus segera mencari kerja. Biasanya kita mulai mencari kerja, kalau kita merasa bahwa telah tiba saatnya bagi kita untuk mandiri dan mempunyai penghasilan sendiri.
  2. Apakah menjadi sarjana menjamin kita pasti akan bekerja ? Belum tentu, sebab ada jutaan sarjana pengangguran, bahkan banyak diantaranya yang pintar.
  3. Menurut anda, mengapa hal itu bisa sampai terjadi? Karena apa yang diajarkan di sekolah atau kuliah seringkali tidak sesuai dengan apa yang diperlukan oleh perusahaan. Sekolah atau kuliah mengajarkan pengetahuan secara umum. Sedangkan dunia kerja memerlukan pengetahuan atau ketrampilan khusus atau spesifikasi dalam bekerja. 
  4. Kalau begitu anda menyetujui kalau sekarang ini tidak adanya link and match (keselarasan dan kesepadanan) antara dunia pendidikan dan dunia kerja ? Setuju sekali. Sebab tidak adanya komunikasi dua arah (mismatch) antara dunia pendidikan dengan dunia kerja. Sejak adanya program pemberantasan buta huruf dan massalisasi pendidikan oleh pemerintah maka mutunya cenderung diabaikan. Sedangkan dunia kerja dapat memilih yang baik dari sekian banyak lulusan sarjana tersebut, karena faktor masih lebih banyaknya persediaan tenaga kerja dibandingkan dengan tenaga kerja yang dibutuhkan. Para sarjana yang tidak baik tentu saja kalah bersaing dengan para sarjana yang lebih baik. Selain itu dunia  kerja dengan berbagai alasan seringkali tidak mau keluar dana untuk meningkatkan dunia pendidikan. Hanya sedikit perusahaan yang mau mengeluarkan dana untuk memperbaiki mutu dari lulusan dunia pendidikan. Kesalahan dimulai dari sekolah dasar (SD). Di sini siswa/siswi cenderung disuruh menghafal, tidak diajak berfikir dan berkreasi. Soal-soal cenderung dibikin mudah, seperti benar atau salah, menjodohkan atau pilihan berganda. Dengan cara dipermudah ini maka jika seseorang tidak dapat menjawab pertanyaannya, maka ia dapat mencoba untuk menebak-nebak yang kadang-kadang jawabannya benar. Dan tidak tertutup kemungkinan walaupun tidak bisa tetapi lulus ujian karena beruntung saat menebak jawaban. Cara seperti ini bahkan berlanjut jenjang SLTP dan SLTA. Hal ini diperburuk dengan adanya kecenderungan untuk meluluskan siswa/siswi, walaupun sebenarnya mereka seharusnya tidak lulus. Hal ini jelas terlihat pada nilai ebtanas murni (NEM) dari siswa/siswi sekolah tertentu yang rata-rata buruk. Sebab kalau tidak diluluskan maka tidak ada kelas lagi untuk menampung mereka, mengingat adik-adik kelasnya juga sudah menumpuk. Biasanya hal ini dilakukan pada tingkat SLTP dan SLTA. Lulusan yang sudah "ujian ulang" atau "cuci gudang" bagi mahasiswa atau mahasiswi senior belum lulus mata kuliah tertentu. Lulusan yang tidak bermutu inilah yang kemudian menjadi sarjana pengangguran, baik secara terbuka maupun secara terselubung.
  5. Fakta membuktikan ada banyak sarjana pintar lulusan luar negeri yang susah mendapatkan kerja di Indonesia. Apa Komentar anda ? Ada 3 faktor utama kenapa sarjana pintar lulusan luar negeri susah mendapatkan kerja di Indonesia. Pertama, minta gaji terlalu tinggi. Banyak perusahaan yang tidak mau memakai sarjana pintar lulusan luar negeri yang meminta gaji yang tinggi. Sebab mereka bisa mendapatkan sarjana lokal yang pintar dengan gaji jauh lebih murah. Kedua bidang study yang dipelajari selama di luar negeri tidak sesuai dengan lapangan kerja yang ada di Indonesia. Ketiga, sarjana pintar tersebut biasanya pilih-pilih saat melamar kerja. Sehingga mereka membatasi sendiri posisi jabatan yang dilamar. Tentu saja hal ini membuat mereka kesulitan mendapatkan kerja, pada saat mereka kalah bersaing dengan sarjana lokal.
  6. Kalau begitu buat apa kita capek-capek kuliah dan menjadi sarjana, kalau tidak menjamin akan segera dapat bekerja ? Terus terang, saya merasa sangat kecewa dan menyesal mengapa harus sekolah tinggi (universitas), jika pada akhirnya sulit mendapatkan pekerjaan. Saya merasa bersalah terhadap diri saya sendiri, kepada keluarga dan kepada negara. Hari-hari saya terasa berlalu begitu saja. Saya kuatir kalau pengetahuan selama kuliah akan hilang ditelan waktu ? Kuliah dan menjadi sarjana hanyalah untuk memperluas wawasan, cara dan pandangan berpikir kita. Kuliah tidak menjamin 100% kita pasti akan mendapatkan kerja. Kuliah hanya mempermudah kita untuk mendapatkan kerja saat kita sedang mencari kerja. Betul sekali. Kita akan melupakan pengetahuan yang diperoleh selama kita kuliah jika kita tidak pernah mempergunakannya dalam waktu yang lama.
  7. Apakah benar kalau mendapatkan kerja adalah satu satu pekerjaan yang paling sulit di dunia ini ? Benar sekali, kalau kita hanya memiliki ijazah yang nilainya pas-pasan serta tidak memiliki kemampuan dan nilai tambah apapun, yang dapat menunjang kita dalam mencari kerja. Tetapi jika kita memiliki kemampuan yang baik maka kita akan mudah sekali mendapatkan kerja. Bahkan kalau kemampuan akademik kita bagus maka pihak perusahaan yang akan mencari kita dan menawarkan lowongan kerja dengan posisi yang baik di perusahaan mereka. Jadi kita tidak perlu repot-repot lagi mencari kerja.
  8. Saya tidak beruntung karena tidak berpendidikan tinggi. Apakah saya dapat bekerja, mengingat banyaknya sarjana pengangguran ? Tentu saja dapat. Bukankah banyak lowongan kerja yang hanya memerlukan lulusan SLTA saja ? Bahkan untuk penjaga toko maka yang dibutuhkan hanya lulusan SLTP. Sebenarnya dalam mencari kerja banyak faktor yang ikut berpengaruh. Tetapi yang paling berperan adalah trik-trik yang dapat kita pelajari dengan baik serta dapat membantu kita di dalam mencari kerja.
  9. Seperti apakah trik-trik tersebut dan berikan contohnya ! Trik-trik tersebut banyak sekali. Contohnya adalah sebagai berikut. Sebelum diterima kerja, melamar sebanyak mungkin. Tonjolkan sebanyak mungkin nilai tambah yang kita punya. Ketika mendapatkan panggilan untuk tes dan interview maka kita harus mempersiapkan diri dalam menghadapinya. Setelah itu siapkan strategi dalam tes dan interview tersebut. KIta juga harus mempersiapkan strategi dalam negosiasi gaji. Tinggal ditambah dengan sedikit faktor hoki maka lowongan kerja tersebut otomatis akan kita dapatkan.
  10. Nilai tambah apakah yang harus dimiliki oleh para pencari kerja ? Nilai tambah itu bisa bermacam-macam. Jangan heran kalau faktor nilai tambahlah yang menentukan pada tahap seleksi akhir. Contohnya adalah sebagari berikut. Sebuah lowongan kerja staff akunting diperebutkan oleh 2 orang, yaitu A seorang sarjana ekonomi (SE) dengan nilai ijazah dan transkrip nilai yang pas-pasan dan tidak memiliki nilai tambah apapun. Sedangkan B, seorang lulusan SMEA dengan nilai tambah kemampuan bahasa Inggris dan Mandarin yang fasih, nilai ijazah, raport dan NEM yang tinggi serta menguasai perpajakan. Dengan permintaan gaji yang sama besarnya maka yang diterima adalah B.
  11. Benarkah di Indonesia masih banyak terdapat ketimpangan dalam pasar tenaga kerja? Ya. Hal ini dapat kita lihat dari hal-hal sebagai berikut :  - Masih lebih banyaknya orang yang mencari kerja dibandingkan lowongan kerja yanga ada. - Masih banyaknya tenaga kerja tidak terdiri dalam struktur tenaga kerja kita. Dimana 50% di antaranya hanya berijazah SD, SLTP atau tidak berpendidikan sama sekali. - Masih banyaknya para pekerja yang hanya digaji berdasarkan upah minimum regional (UMR), bahkan ada yang di bawah UMR. Dengan semakin majunya perekonomian Indonesia seharusnya upah kepada para pekerja adalah di atas dari kebutuhan fisik minimum (KFM). - Perbandingan antara upah tertinggi dan terendah di perusahaan-perusahaan swasta, BUMN, Joint venture, maupun PMA bisa hampir 1000 kali. Saat ini upah buruh terendah bekisar 2 juta (dibawah UMR) sampai 3 juta per bulan sedangkan upah tertinggi sudah mencapai miliaran rupiah per bulan. - Masih adanya kesenjangan antara ketrampilan yang tersedia di pasar tenaga kerja, yaitu antara pencari kerja (penawaran tenaga kerja) dengan kebutuhan dari perusahaan (permintaan tenaga kerja) - Masih banyaknya lulusan sarjana yang tidak bekerja. Selain itu masih banyak sarjana yang bekerja tidak sesuai dengan disiplin ilmu yang dipelajari saat masih kuliah. - Penyebaran lapangan kerja yang tidak merata, baik antara desa, kota kecil, dan kota besar. Juga antara kawasan Indonesia bagian barat, tengah dan timur. -  Masih banyaknya tenaga teknisi dan profesional (manajer ke atas), konsultan yang memakai tenaga kerja asing (TKA). Bandingkan dengan tenaga kerja Indonesia (TKI) yang sebagian besar hanya pembantu rumah tangga, buruh pabrik, buruh perkebunan, buruh kasar dan perawat.
  12. Benarkah anekdot yang mengatakan bahwa untuk mendapatkan pekerjaan haruslah memiliki pengalaman kerja terlebih dahulu ? Tidak benar. Sekarang ini banyak perusahaan yang mencari fresh graduated (tenaga kerja yang baru lulus, terutama lulusan S1). Kepada mereka telah dipersiapkan suatu pelatihan (training) seperti management trainee, management development program, officer development program, dsb. Ditraining dulu beberapa lama, kemudian baru bekerja. Biasanya perbankan, perusahaan asuransi, agen pemasaran property dan perusahaan besar yang melakukan sistim ini. Sedangkan bagi perusahaan kecil dan menengah biasanya training diberikan sambil bekerja (job on training). Untuk lulusan SLTA tidak perlu berkecil hati, karena kepada mereka bisa diberikan job on training. Selain itu untuk bagian sales atau marketing, biasanya tidak terlalu mempersoalkan apakah baru lulus atau tidak, sebab akan diberikan training. Jadi disini jika kita mempunyai pengalaman kerja sebelumnya hanya akan memberikan nilai tambah saja. Sebab setelah diterima bekerja, ternyata harus ikut training lagi, Training tersebut meliputi jenis produk, apa kelebihannya dibandingkan dengan barang sejenis merek lainnya, cara menjual produk, cara menghadapi pembeli atau pelanggan, cara mengatasi keluhan pelanggan dan sebagainya.
  13. Bagaimana cara menyiasati bagi mereka yang belum mempunyai pengalaman kerja sebelumnya? Bagi orang-orang yang belum mempunyai pengalaman kerja sebelumnya, maka harus bermodal "nekad", berani bersaing dengan orang-orang yang telah mempunyai pengalaman sebelumnya. Sebab tidak ada salahnya kalau kita melamar kerja, walaupun tidak semua persyaratan yang di minta dapat kita penuhi, seperti harus berpengalaman kerja minimal 1 tahun. Yang penting harus berani untuk melamar kerja dan keinginan untuk melamar sebanyak-banyaknya sampai kita mendapatkan kerja.
  14. Bagaimana cara mengetahui lowongan kerja di suatu instansi atau departemen atau perusahaan, baik pihak pemerintah maupun swasta. Sedangkan informasi lowongan kerja tertutup bagi pihak luar? Kita dapat menanyakan langsung kepada bagian personalia (HRD), satpam, office boy, receptionis atau setiap orang yang bekerja di sana. Sebab sebuah informasi untuk 1 lowongan kerja biasanya diketahui oleh hampir seluruh karyawan yang ada di sana. Hal ini tidak usah diherankan karena gosip di kantor selalu menyebar dengan cepat.
  15. Bagaimana cara mendapatkan informasi mengenai data-data perusahaan secara komplit terutama tentang nama dan alamat perusahaan? tentu saja kita sendiri harus mencari informasi tersebut dari orang dalam perusahaan seperti satpam, office boy, staff karyawan, dan sebagainya. Kalau-kalau data perusahaan yang sudah Go Public maka kita dapat meminta prospektus perusahaannya di perusahaan-perusahaan efek, pialang saham terdekat. Ketika memintanya maka kita harus berpakaian rapi agar di kira calon investor, jika tidak maka mereka tidak akan mau meladeni permintaan kita. Kita juga dapat mengatakan kalau kita adalah mahasiswa yang sedang ditugaskan melakukan riset oleh dosen dengan mencari data-data dari perusahaan telah GO Public.

Komentar